Hidup adalah sebuah perjalanan. Perjalanan untuk mencapai pada titik kehakikian manusia sebagai seorang makhluk dan hamba Allah SWT.

Friday, November 26, 2004

Subsidi Penerbangan ke Eropa, Perlukah?

Dimuat di Investor Daily, 26 November 2004

Subsidi Penerbangan ke Eropa, Perlukah?

Setelah melayani jalur penerbangan Jakarta-Amsterdam kurang lebih 39 tahun, manajemen PT Garuda Indonesia Airways akhirnya memutuskan untuk menutup rute ini per 1 November 2004. Penutupan rute tersebut sekaligus menjadi gong tamatnya penerbangan Garuda ke kawasan Eropa. Sebelumnya, maskapai penerbangan BUMN ini juga menutup jalur penerbangannya ke London, Paris dan Frankfrut.


Alasan mendasar penutupan rute tersebut, seperti diungkapkan Dirut Garuda Indra Setiawan adalah demi efisiensi. Untuk mengoperasikan jalur penerbangan Jakarta-Amsterdam, Garuda harus memikul kerugian yang berkisar antara US$ 900 ribu sampai US$ 1,6 juta per bulan. Pada saat yang sama, maskapai penerbangan ini harus menanggung beban utang yang mencapai US$ 110 juta per tahun.


Dilihat dari kapasitas penumpang (load factor), menurut Indra, penerbangan dari Amsterdam ke Indonesia selama low season rata-rata hanya sekitar 40%, sementara saat masa puncak (peak season) bisa mencapai 90%. Sedangkan perolehan keuntungan (yield) penerbangan ke kawasan tersebut rata-rata 3,5 sen per seat per kilometer. Hal itu lebih rendah ketimbang perolehan penerbangan ke Timur Tengah dan domestik yang masing-masing sebesar 6 sen dan 7 sen. Karena itu, Garuda ke depan akan memfokuskan pada pasar domestik dan kawasan Asia yang dirasa lebih menguntungkan secara bisnis.


Sebagai entitas bisnis, Garuda memang harus selalu mempertimbangkan aspek untung-rugi dalam setiap langkah usahanya. Namun, penutupan itu apakah sudah memikirkan aspek jangka panjang dan kepentingan yang lebih luas? Meski penutupan rute Jakarta-Amsterdam, menurut pengakuan Indra, bersifat sementara karena pada Juni 2005 jalur tersebut akan dibuka kembali, namun itu harus dipikirkan dengan matang.


Penutupan suatu rute penerbangan berarti akan ada pengalihan penumpang yang biasanya menggunakan Garuda ke maskapai penerbangan lain. Kini, pasar yang ditinggalkan Garuda hampir pasti diambil alih KLM Belanda, Malaysia Airlines (MAS) atau Singapura Airlines. Dan, saat Garuda membuka kembali rute Jakarta-Amsterdam, merebut pasar yang sudah diambil alih maskapai penerbangan lain bukan perkara yang mudah serta butuh biaya promosi yang lebih besar lagi.


Penutupan rute ke Amsterdam tersebut yang pasti juga bakal berdampak pada pemenuhan target kunjungan wisatawan mancanegera (wisman) ke Indonesia tahun ini sebanyak 5 juta orang dengan pemasukan devisa US$ 5 miliar. Devisa dari pelancong asal Eropa ke Indonesia akan mengalir ke negara-negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Padahal, potensi wisman dari kawasan ersebut cukup besar.


Sekadar tahu, sejak terbetik kabar Garuda akan menutup jalur penerbangannya ke Amsterdam, MAS gencar berpromosi di sejumlah televisi Belanda menjajakan wisata alam (ecotourism) kawasan Kalimantan yang asri dan perawan. Beberapa anak Kalimantan juga dijadikan ikon program petualangan produksi televisi komersial itu. Kini, paket-paket wisata ke Kalimantan yang dijajakan biro perjalanan di Belanda adalah Kalimantan-nya Malaysia.

Wacana Subsidi
Karena itu, muncul wacana agar pemerintah menyubsidi maskapai nasional yang melayani penerbangan dari dan ke Eropa. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) menilai, tidak adanya penerbangan Indonesia-Eropa akan berdampak buruk terhadap arus kunjungan wisman kawasan itu ke Indonesia. Pasalnya, transportasi memberikan kontribusi 30-40% terhadap kedatangan wisman.


“Tidak terbangnya Garuda ke Eropa, wisman akan menggunakan transportasi lain seperti Singapore Airlines dan Malaysia Airlines untuk ke Indonesia. Itu akan menambah biaya bagi wisman. Jadi, lebih baik pemerintah menyubsidi penerbangan," kata Ben Sukma, ketua umum DPP Asita, beberapa waktu lalu.


Sedangkan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carrier Association/INACA) melihat, pemberian subsidi penerbangan ke Eropa akan mempunyai efek berantai (multiplier effect) yang cukup luas. Pertama adalah masuknya devisa dari pelancong Eropa yang datang ke Indonesia. Masuknya wisman ini akan menghidupi usaha perhotelan, biro perjalanan wisata, serta pedagang kerajinan. Dan, terpenting adalah membawa citra Indonesia di mata internasional. “Keuntungan tersebut akan bisa menutupi dana subsidi pemerintah ke Garuda,” ujar Tengku Burhanudin, ketua INACA.


Jadi, menurut Tengku, kalau pemerintah serius ingin memberikan subsidi untuk penerbangan ke Eropa, harus membicarakannya terlebih dulu dengan pihak Garuda yang selama ini melayani rute tersebut. Kedua pihak harus duduk bersama membahas besarnya dana subsidi dikaitkan dengan kerugian Garuda akibat pengoperasian rute tersebut. “Jangan hanya membantu ratusan dolar, terus Garuda dipaksa terbang ke Eropa. Tapi kalau rugi disalah-salahkan,” jelas Tengku.

Subsidi sebenarnya bukan barang baru bagi industri penerbangan. Beberapa jalur penerbangan perintis di Tanah Air kini disubsidi pemerintah. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pun pernah memberikan subsidi bagi industri penerbangannya. Subsidi tersebut diberikan untuk menolong maskapai AS dari kebangkrutan menyusul tragedi WTC pada 11 September 2001.

Sedangkan Singapura melalui Singapore Tourism Board (STB) secara tidak langsung membantu industri penerbangannya, Singapore Airlines, dengan kerjasama promosi pariwisata.
Meski subsidi penerbangan dilakukan beberapa negara lain, pelaksanaannya tetap harus hati-hati. Sebab, bukan tidak mungkin langkah tersebut akan diprotes negara lain seperti yang pernah dilakukan Uni Eropa terhadap AS.

Selain itu, harus diingat pula bahwa dalam era persaingan bebas nanti setiap maskapai penerbangan mesti meminimalisasi intervensi pemerintah dalam setiap langkah bisnisnya. Maskapai harus bebas menentukan ke mana akan terbang atau menutup rutenya berdasarkan pertimbangan bisnis. (nurdian akhmad)

No comments: